Terlalu Pintar

Terlalu Pintar

Terlalu Pintar – Sudah beberapa hari ini Bu Guru Rina dibuat bingung dengan Emus, dengan kecerdasan Emus yang memang sudah tidak diragukan lagi, serta pola dan cara berpikir dia yang melampaui anak seusianya membuat para guru disekolahnya terkagum-kagum.

Hal yang membuat Bu guru Rina bingung adalah, karena Emus terlalu cerdas maka setiap pertanyaan yang diajukan kepada murid-murid dikelas, selalu Emus yang menjawab dan jawaban itu hampir selalu tepat.

Jika hal ini terus terjadi, Bu guru Rina berpikir kasihan murid yang lain karena akan kesulitan menerima pelajaran yang dia berikan. Hal lain yang membuat Bu guru Rina bingung adalah selain cerdas Emus ini juga sering bertingkah dan berkata “Nyleneh” dan cenderung jorok untuk anak seusianya, Emus bahkan tahu bagaimana hubungan suami istri itu dilakukan.

Hingga pada suatu hari Bu guru RIna mempunya ide untuk memasukkan Emus ke kelas tiga, semacam akselerasi. Dalam pemikiran Bu guru RIna, Emus memang sudah pantas diikutkan dalam program akselerasi dan dimasukkan di kelas tiga.

Kelas Akselerasi

Pagi itu Bu guru RIna berencana mengajukan usulnya kepada kepala sekola Bapak Paidi.

“Selamat pagi pak Paidi” Bu Rna masuk ke ruangan kepala sekolah

“Pagi bu RIna, silahkan duduk ada perlu apa ya?” Pak Paidi mempersilahkan bu guru RIna masuk

“Begini pak Paidi, ini tentang Emus murid saya di kelas satu”

“Dia anak yang sangat cerdas bahkan terlalu cerdas untuk ukuran anak kelas satu, jadi saya bermaksud mengajukan Emus ikut akselerasi dan dimasukkan ke kelas tiga” Bu guru RIna menjelaskan

“Selain itu, Emus ini juga sering berpikir dan berkata nyleneh pak Paidi” Bu guru Rina melanjutkan

“Nyleneh gimana to bu RIna, saya kok gak paham”

“Ucapan Emus itu cenderung jorok pak, saya juga sering bingung”

“Baiklah kalau begitu bu RIna, coba tolong bawa Emus kemari, saya akan tes dia…Jika dia berhasil menjawab pertanyaan saya maka saya setuju Emus diikutkan akselerasi dan dimasukkan ke kelas tiga, tetapi jika dia tidak bisa menjawab pertanyaan saya, Emus tetap di kelas satu” Pak Paidi menjelaskan.

Baca juga Pesan Moral Sebuah Cerita

Tes Akselerasi

Bu guru RIna pun pamit, dan berjalan menuju ke ruangan kelas satu, tak lama kemudian Bu Rina sudah kembali ke ruangan kepala sekolah dengan diikuti oleh Emus.

“Emus, kamu mau gak kalau saya naikkan langsung ke kelas tiga?” Pak Paidi membuka percakapan

“Mau dong pak, saya merasa pelajaran kelas satu terlalu mudah bagi saya, atau mungkin saya yang terlalu pintar” Emus menjawab

Bapak kepala sekolah dan Bu guru Rina saling memandang

“Tapi ada syaratnya, kamu harus bisa menjawab semua pertanyaan bapak”

“Siap pak” Emus menjawab spontan

“Berapakah hasilnya 8 dikalikan 12” Pak Paidi mulai menguji Emus

“sembilanpuluh enam” Emus langsung menjawab

“Berapa akar pangkat dua dari 169”

“Tigabelas”

Baik, untuk matematika kamu saya anggap sudah lulus karena pertanyaan tadi untuk anak kelas tiga
Pak Paidi berkata sambil tersenyum

“Sekarang coba jelaskan kenapa Kapal tidak tenggelam di air, padahal kapal itu berat”

“Kapal tidak tenggelam sebab massa jenisnya lebih kecil daripada cairan. Kapal memang berat tapi mempunyai ruangan-ruangan luas berisi rongga udara yang menciptakan volume kapal laut kian besar. Hal ini menyebabkan massa jenis kapal laut lebih menjadi lebih kecil daripada massa jenis air.” Emus menjawab dengan jelas dan mantap.

Bapak kepala sekolah melanjutkan beberapa pertanyaan, hampir semua pertanyaan yang diajukan bapak kepala sekolah adalah materi pelajaran kelas tiga bahkan ada beberapa pertanyaan dengan materi kelas lima.

Dan hebatnya Emus, dia bisa menjawab semua pertanyaan itu. Setelah hampir satu jam tes itu dilakukan akhirnya Bapak kepala sekolah setuju untuk mengikutkan Emus di program akselerasi dan dimasukkan ke kelas tiga.

“Bu Rina, saya sepakat dengan anda untuk memasukkan Emus ke kelas tiga”

“Sebentar pak, bolehkan saya juga ikut mengajukan beberap pertanyaan untuk Emus sekedar membuktikan kepada bapak bahwa selain pintar Emus juga berperilaku nlyeneh”

“Silahkan bu RIna”

“Emus…ada suatu benda bagian tubuh, sapi dirumahmu memiliki benda itu sebanyak empat buah, sedangkan Bu Rina memiliki benda itu hanya dua, benda apakah itu?

“Kaki..” Emus menjawab enteng

“Benar” sekarang pertanyaannya selanjutanya

“Benda apakah yang ada di celana ayahmu, tapi benda itu tidak ada di celana Bu RIna” Bu Rina melanjutkan

“Dompet bu, karena setiap pria membawa dompet di saku celana, sedangkan wanita dompet selalu di masukkan ke dalam tas” Emus menjawab dan menjelaskan

“Apakah ben….”

“Suu…suudah Bu Rina, pertanyaannya sudah cukup dan saya usulkan Emus dimasukkan langsung saja ke kelas lima” Pak Paidi menghentikan pertnayaan Bu Rina

“Lho kok langsung ke kelas lima pak?” tanya Bu RIna keheranan

“Dua pertanyaan yang diajukan Bu Rina kepada Emus tadi , kalau saya ikut menjawab saya salah semuanya” Pak Paidi menjelaskan sambil menutup mulutnya.

 

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *