Sang Diktator dari Nicaragua 5th

Sang Diktator dari Nicaragua (Konflik Tak Berujung Nicaragua) Bagian 5

Sang Diktator dari Nicaragua bagian 5 (Tamat) – Menghadapi kekalahan, Somoza Debayle mengundurkan diri sebagai presiden pada tanggal 17 Juli 1979 dan melarikan diri ke Miami kemudian berpindah ke Paraguay. Banyak anggota dari Garda Nasional meninggalkan Nicaragua, mencari suaka ke Negara tetangga terutama Honduras dan Guatemala.

Baca Sang Diktator Dari Nicaragua (Konflik Tak Berujung Nicaragua) Bagian 4

FSLN dan anggota pasukan revolusioner lainnya menguasai Managua pada tanggal 19 Juli, sekaligus emandai berakhirnya perang sipil di Nicaragua. Sejarah mencatat bahwa selama konflik ini diperkirakan lebih dari 50.000 jiwa melayang, 120.000 orang mengungsi dan 600.000 keluarga kehilangan rumah tempat tinggalnya.

Perekonomian Nicaragua hancur dan menyisakan hutang sebesar 1.6 Milyar dollar Amerika Serikat. Sebuah Junta beranggotakan lima orang dibentuk untuk memerintah Negara, Junta ini mendapat dukungan dari sebagian besar masyarakat.

FSLN sementara berhasil mengkonsolidasi perpecahan kekuasaan yang mulai muncul. Pada bulan September tahun 1980, Somoza Debayle dibunuh di pengasingannya di Asuncion, Paraguay, Pembunuhan ini dilakukan oleh anggota sayap kiri Argentina – (Leftist Argentinian Revolusionary Wrokers’ Party).

Kisah konflik Nicaragua belum berakhir, karena dituduh menerima bantuan dari Kuba dan Uni Soviet, serta menyediakan senjata kepada gerilyawan di El-Salvador, Pemerintahan Amerika Serikat dibawah presiden Ronald Reagen melakukan serangan untuk mengisolasi FSLN.

RonalD Reagen menghentikan semua bantuan Amerika Serikat kepada Nicaragua, disamping itu Amerika Serikat juga memberikan bantuan pendanaan serta pelatihan kepada pemberontak sayap-kanan “Contra” yang beroperasi dari Negara teteangganya yaitu Honduras.

Anggota “Contra” sebagian besar adalah mantan anggota Garda Nasional yang juga menerima bantuan senjata dari Israel.

FSLN merespon dengan membatasi kebebasan sipil dan meningkatkan persenjataan nasional. Angkatan Bersenjata Rakyat Sandinista (Sandinista People’s Army / Ejercito Popular Sandinista / ESP), dan Pasukan Kepolisian (Sandinista Police / Policia Sandinista / PS).

Baik angkatan bersenjata maupun polisi, semuanya dikontrol oleh Sandinista dan dilatih ooleh personil dari Kuba, Eropa Timur, dan Uni Soviet. Karena bantuan dari Kuba dan Uni Soviet inilah, maka EPS kemudian berkembang menjadi pasukan militer yang terbesar dan terlengkap di Amerika Tengah.

Wajib militer yang kemudian dikembangkan selama tahun 1983, membuat perkembangan keanggotaan militer meningkat menjadi sekitar 80.000 personil tentara hingga pertengahan tahun 1980 an.

Penutup

Dalam sejarah politik Nicaragua, sejatinya tidak ada Pahlawan-pahlawan atau penjahat-penjahat. Semua tokoh berkompromi dengan progress multinaungan atas demokrasi yang sebenarnya. Dinasti Somoza adalah Koruptor kakap, terutama dibawah pemerintahan Anastasio Somoza Gracia.

Anastasio Somoza Gracia cukup cerdik untuk menjaga jaringannya yang tersebar luas dengan berbagai cara. Secara ekonomi, Nicaragua sempat mengalami masa kejayaan walaupun hanya sesaat dan itupun disebabkan karena Nicaragua adalah pemasok utama kebutuhan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II.

Di dunia barat, kaum Sandinista kerap digambarkan sebagai pahlawan yang disalib karena memperjuangkan sesuatu yang baik. Pada kenyataannya mereka sama saja, suka membantah dan melakukan kekerasan, sehingga pada akhirnya tidak disukai oleh sebagian besar rakyat Nicaragua. Hal ini juga terbukti dengan kekalahan mereka dua kali berturut-turut dalam pemungutan suara.

Teologi pembebasan Gereja Katolik Roma juga sempat dipuji atas peran mereka dalam menumbangkan Somoza Debayle. Skema ini kemudian dilanjutkan oleh Gereja Katolik Roma yaitu Menolak sebuah pemerintahan adalah satu hal, membentuk sebuah pemerintahan semata-mata adalah sesuatu yang lain.

Di konflik Negara Nicaragua, peran dua Negara super power waktu itu Amerika Serikat dan Uni Soviet sangatlah kentara, mereka memainkan peranan penting sebagai Polisi dunia.
Dan yang terakhir adalah…. Power Tends To Corrupt memang benar adanya

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *