Pesan Moral Sebuah Cerita

Pesan Moral Sebuah Cerita

Pesan Moral Sebuah Cerita – Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, Emus sekarang sudah kelas tiga Sekolah Dasar.

Emus nama panggilan dari Edy Musdianto, si anak kecil dengan pemikiran yang melampaui anak seusianya itu semakin cerdas, hal ini terbukti sejak kelas satu nilai Emus selalu diatas rata rata, karena ia selalu memperhatikan pelajaran yang diajarkan dengan seksama.

“Emus ayo bangun nanti kamu terlambat, hari ini kamu sudah mulai masuk sekolah lagi” Ibu Emus membangunkan Emus

“Masih ngantuk bu” Emus menjawab tapi masih merem

Segera Ibu Emus menarik selimut yang masih menutupi tubuh Emus, dan membopong putra semata wayangnya ke kamar mandi.

Pagi itu adalah hari pertama Emus masuk sekolah sebagai seorang murid kelas tiga SD. Setelah selesai mandi dan sarapan Emus diantar ke sekolah oleh bapak Emus dengan menggunakan “Si Jambrong”

Baca juga Hasrat Bapak Emus

Karena baru hari pertama sekolah, maka tidak ada kegiatan belajar mengajar, hanya diisi perkenalan guru baru maupun siswa baru yang ada di kelas Emus.

“Selamat pagi anak-anak, perkenalkan saya Bu Sumiyati yang akan menjadi guru dan wali kelas kalian”

“Pagi Bu Guru Sumiyati” anak-anak serempak menjawab

Setelah ngobrol ngalor ngidul dan kelas menjadi riuh dengan obrolan serta canda murid-murid bu Guru Sumiyati menyampaikan pengumuman

“Anak-anak, hari ini tidak ada pelajaran tapi ibu memberikan PR buat kalian”

“PR nya adalah, kalian harus menulis sebuah cerita dan disimpulkan apa pesan moral atau pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita itu, faham anaka-anak?”

“Fahaaaam bu guru”

Pesan Moral Sebuah Cerita

Hari itu sekolah pun usai, ,urid-murid diperkenankan pulang

Hari berikutnya Bu guru Sumiyati kembali mengajar dan meny ruh murid-muridnya maju satu persatu untuk menceritakan kisah mereka.

“Siti, sekarang kamu maju pertama, coba bacakan cerita yang kamu buat dan pesan moral yang bisa kita dapatkan dari ceritamu” Bu Sumiyati menunjuk Siti

“Ayah saya memiliki peternakan ayam petelor dan setiap hari Minggu kami memuat telur-telur ayam ke truknya Pak Amron untuk dibawa dan dijual di Pasar kota”

“Minggu kemarin truk Pak Amron mengalami musibah, karena kurang hati-hati truk yang kami tumpangi tanpa sengaja melewati sebuah lubang besar, muatan yang berisi rak telur jatuh kejalan sehingga semua telur kami pecah dan hancur”

“Terus moral cerita atau pesan yang mau kamu sampaikan apa Siti dari ceritamu itu?” Bu Sumiyati bertanya

Siti menjawab, “Jangan menyimpan semua telurmu dalam satu keranjang.”

“Cerita dan pesan moral yang bagus Siti” bu Sumiyati memuji

Berikutnya giliran Wiwid untuk maju dan membacakan ceritanya

“Ayah saya juga memiliki beberapa ekor ayam yang kami pelihara untuk kami ambil telurnya dan ditetaskan”

Setiap seminggu sekali telur-telur yang kami dapatkan, akan kami tetaskan di mesin penetas yang dimiliki oleh ayah, pekan lalu hanya delapan dari 12 telur yang menetas.”

Lagi-lagi, bu guru Sumiyati meminta pesan moral dari cerita.

“Kita Jangan menghitung berapa ayam kita terlebih dahulu sebelum telur-telur itu menetas.” Jawab Wiwid

“Bagus Wiwid, sekarang giliran kamu Emus coba bacakan cerita yang kamu buat”

Emus maju kedepan dengan percaya diri dan yakin dia mulai membacakan ceritanya

“Paklik saya bernama Lek Arya, kemarin ketika sedang melihat ladang tanaman sawi di kebunnya ada empat ekor kambing yang masuk dan memakan tanaman sawi milik Lek Arya”

“Lek Arya kemudian mengusir dan mengejar kambing-kambing itu dengan sebilah sabit di tangannya, seekor kambing tertangkap dan langsung digorok lehernya, seekor lagi dilempar batu oleh Lek Arya hingga kambing itu sekarat, sedangkan yang dua ekor berhasil kabur lepas dari kejaran Lek Arya”

Bu Guru Sumiyati tampak sedikit terkejut. Setelah berdehem, dia bertanya pesan moral apa yang mungkin ada pada cerita ini.

“Jangan jadikan Lek Arya sebagai Menantu” Jawab Emus tegas

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *