Pertanyaan Terakhir

Pertanyaan Terakhir

Pertanyaan Terakhir – Pakde Woto, demikian orang-orang desa biasa memanggilnya, nama lengkapnya adalah Sumarwoto.
Pakde Woto adalah kakak tertua dari Bapak Emus, mempunya empat orang anak, laki-laki semua.
Anak pertama bernama Narno sekarang berusia 25 tahun, seorang Tentara yang bertugas di Kalimantan, berperwakan tegap dengan kulit putih.

Putra kedua dari pakde Woto adalah Tono, saat ini kuliah di kota berusia 21 tahun. Sama seperti kakaknya Narno, Tono juga berkulit putih dan berbadan tegap.

Putra ketiga adalah Tri, sekolah kelas 3 SMA dengan badan atletis dan kulit bersih. Adapun putra bungsu pakde Woto adalah Budi, dia masih duduk di bangku kelas 2 SMP, berbeda dengan ketiga kakaknya, perwakan Budi ini ceking dengan kulit hitam legam.

Sudah beberapa hari ini pakde Woto mengalami sakit yang cukup parah, bolak-balik dia harus opname dan dirawat di rumah sakit, kata dokter pakde Woto menederita penyakit Diabetes dan Jantung.

Semenjak pakde Woto sakit dan harus dirawat di rumah sakit, Ibu Emus hampir setiap hari selalu datang ke rumah pakde Woto. Ibu Emus membantu memasak untuk putra-putra pakde Woto, khususnya menyiapkan makanan untuk Tri dan Budi yang masih sekolah.

Bukan itu saja, Ibu Emus juga selalu membuat dan menyiapkan makanan dan dimasukkan ke dalam rantang untuk dibawa oleh Bude Woto atau anak-anaknya yang setiap hari bergantian menjaga pakde Woto di Rumah sakit.

Pertanyaan Terakhir Pakde Woto

Siang itu ketika sedang menyiapkan makan siang untuk anak-anak pakdhe woto, tiba-tiba bapak Emus datang tergopoh-gopoh menemui Ibu Emus yang sedang sibuk memasak di rumah pakde Woto

“Bu, ayo cepat kita ke rumah sakit, ini tadi mbakyu Woto telepon dan bilang kalau kangmas sekarang kritis” kata Bapak Emus.

“Lha terus ini nanti Tri dan Budi gimana makannya?”

“Sudah ayo cepat, Tri dan Budi pasti juga sudah di rumah sakit”

Tak lama kemudian mereka menuju ke rumah sakit tempat dimana pakde Woto dirawat.
Sesampai di rumah sakit, tampak semua keluarga pakde Woto sudah berkumpul, hampir semuanya menangis sesenggukan, hanya budhe Woto yang masih khusyu’ membaca doa.

Dalam sayup-sayup terdengar lirih pakde Woto berkata

“Anak-anak dan semuanya yang ada disini saya minta keluar kecuali istriku”

“Ada apa kangmas” tanya bude Woto

“Aku ingin menyampaikan beberapa kata terakhir, tapi hanya khusus untukmu bun’e” jawab pakde woto lirih

Semua yang berada di kamar rawat itu akhirnya keluar, hanya tinggal bude Woto

Baca juga Emus Yang Baik Hati

“Sini bun’e mendekat”

Setelah bude Woto mendekat, pakde Woto melanjutkan ucapannya

“Bun’e, sebelum aku mati, jujurlah padaku, apakah Budi putra bungsu kita adalah anakku?”

“Aku bersumpah pada segala sesuatu yang suci bahwa dia adalah putramu.” Jawab Bude Woto sambil terisak

Setelah mendengar jawaban bude Woto, tak lama kemudian pakde Woto meninggal dengan tersenyum

Bude Woto walaupun sedih tetapi juga lega, bukan karena penderitaan suaminya sudah berakhir, tetapi lega karena Pakde Woto tidak bertanya tentang tiga putra lainnya, kakak-kakak si Budi.”

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *