Merindukan Swasembada Pangan

Merindukan Swasembada Pangan

 

Merindukan Swasembada Pangan –  Sebagai bangsa agraris yang mayoritas masyarakatnya hidup dan bekerja di bidang pertanian, maka pembangunan di sektor ini harusnya mendapat perhatian yang utama. Terlepas dari banyaknya hujatan yang ditujukan kepada Soeharto, saya melihat ada salah satu pencapaian yang harus diapresiasi disaat pemerintahan orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto, taitu keberhasilan Indonesia mencapai Swasembada Pangan

Memang Pak Harto (saya kok lebih enak memanggil dengan nama ini) membutuhkan waktu 17 tahun untuk mencapai Swasembada Pangan, Sejak mulai memimpin Indonesia tahun 1967 perbaikan hasil pertanian dan kehidupan petani baru tercapai tahun 1984, saat itu Indonesia bias mencapai Swasembada Beras yang merupakan kebutuhan pokok penduduk Indonesia.

Merindukan Swasembada Pangan

Keberhasilan ini mempunyai nilai yang spektakuler, karena bisa mengubah Indonesia dari Negara pengimpor beras terbesar di dunia menjadi Swasembada. Keberhasilan mencapai Swasembada Pangan ini mengantar Pak Harto diundang berpidato di depan konferensi ke-23 FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) di Roma Italia, pada 14 November 1985.

Pada kesempatan itu, Pak Harto menyerahkan bantuan 1 juta ton gabah, sumbangan dari para petani Indonesia untuk disampaikan kepada rakyat di Negara-negara Afrika yang menderita kelaparan. “Jika pembangunan di bidang pangan ini dinilai berhasil maka itu merupakan kerja raksasa dari seluruh bangsa Indonesia” demikian kutipan pidato Pak Harto didepan wakil-wakil dari 165 negara anggota FAO.

Kerja keras petani ini berhasil meningkatkan produksi beras yang pada tahun 1969 hanya sebesar 12.2 juta ton menjadi lebih dari 25.8 juta ton pada tahun 1984. Dihadapan para peserta konferensi, Pak Harto memperkenalkan petani asal Tajur Bogor yang ikut dalam rombongannya.

Pernyataan Pak Harto yang ditujukan kepada Negara-negara maju anggota FAO, selain bantuan pangan yang lebih penting adalah “kelancaran ekspor komoditi pertanian” dari negara-negara yang sedang membangun ke negara-negara industry maju.

Sisi lain dari keberhasilan ekspor pertanian, adalah bukan hanya semata-mata untuk meingkatkan devisa, tetapi lebih dari itu, untuk memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan petani.

Atas keberhasilan Swasembada Pangan ini, Direktur FAO Dr Edouard Saouma dalam kunjungan ke Jakarta, Juli 1986 menyerahkan penghargaan medali emas FAO. Medali itu menampilkan gambar timbul Pak Harto dengan tulisan : President Soeharto – Indonesia. Dan disisi lainnya bergambar seorang petani yang sedang menanam padi dengan tulisan “From Rice Importer to Self Sufficiency”.

Ini sebuah penghargaan yang luar biasa bagi Negara Indonesia. Penghargaan dari dunia Internasional yang membuat Indonesia dikagumi dan disegani waktu itu.

Setelah era Reformasi, dan pada kepemimpinan Jokowi ini, saya dan mungkin mbah saya, mbokde saya, ibu-bapak saya dan segenap rakyat Indonesia, berharap bisa mencapai lagi apa yang dinamakan Swasembada Pangan. Kami lebih merindukan itu, Merindukan Swasembada Pangan, kami bosan dengan hiruk pikuk politik dengan mendengar sebutan Cebong dan Kampret setiap hari. Tolong pak presiden Jokowi, penuhi keinginan dan kerinduan kami akan Swasembada Pangan.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *