GOLPUT

Maaf Kali ini Saya Golput

Maaf Kali ini Saya Golput – Setelah runtuhnya rezim Orba, masyarakat berada dalam euphoria reformasi, harapan pun muncul.

Ada perubahan Signifikan terutama dalam penguatan masyarakat sipil (Civil Society). Parpol–parpol baru bermunculan.

Pemilu pertama multipartai diselenggarakan tahun 1999 , diikuti 48 Parpol. Puluhan Parpol peserta pemilu rontok dan hanya menyisakan belasan parpol dalam pemilu berikutnya.

Pada era Reformasi, pemilihan presiden juga mengalami perubahan mekanisme. Pemilihan presiden pertama saat era reformasi yaitu tahun 1999.

Pemilihan presiden dilakukan oleh anggota MPR hasil Pemilu 1999 menempatkan Ketua Dewan Syuro PKB Abdurrahman Wahid yang berpasangan dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri sebagai wakil menjadi pemegang tampuk pemerintahan.

Pasca-reformasi, Indonesia tercatat melakukan empat kali amandemen, dimana untuk pemilihan presiden diatur dalam Amandemen yang pertama pada intinya membatasi wewenang eksekutif yang sebelumnya dinilai terlalu besar.

Amandemen Pasal 7 yang mengatur periode masa jabatan presiden dan wakil presiden dibatasi menjadi dua kali memperjelas tentang pembatasan wewenang eksekutif.

Terlihat pula pada Pasal 5, di mana presiden tak bisa lagi sekehendak hati menyusun undang-undang karena harus menyusunnya bersama DPR.

Setelah itu munculah amandemen kedua UUD 1945 terhadap Pasal 6A. Dalam pasal itu diatur bahwa presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat.

Baca juga Ngebut Dengan Mobil ESEMKA

Pemerintah beserta DPR kemudian merespon dengan memperbarui Undang-Undang Pemilu. Tertulis dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2004 tentang Pemilu, ketentuan pilpres langsung segera diadopsi.

Pada Pemilu tahun 2004 yang pertama kali menggunakan sistem pilpres langsung dimenangkan oleh pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla, melalui dua putaran pemilu.

Peserta pemiu 2004 ada 5 Pasangan Capre-Cawapres, yaitu Wiranto dan Salahuddin Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi, Amien Rais dan Siswono Yudo Husodo, serta Hamzah Haz dan Agum Gumelar serta SBY-JK.

Pilpres kemudian berkembang pada era Presiden Joko Widodo. Pada 2017, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu yang mengatur pelaksanaan Pemilu Legislatif 2019 dan Pemilu Presiden 2019 dilakukan serentak alias bersamaan disahkan.

Kondisi ini membuat partai politik harus membentuk membentuk koalisi jauh sebelum dilaksanakannya pilpres dan pileg.

Pada Pilpres 2014, saya adalah pendukung Prabowo sebenarnya ada beberapa alasan utama yang membuat saya memilih Prabowo, diluar penilaian sebagian besar masyarakat Indonesia yang menilai Prabowo memiliki masa kelam, ada rasa simpati saya kepada Prabowo yang setelah reformasi seperti seolah-olah di”Kuyo-kuyo”.

Alasan lain saya mendukung Prabowo adalah karena Prabowo didukung oleh GOLKAR.

Mohon dimaklumi saya adalah seorang anak dari mantan seorang pengurus Golkar militant, doktrinisasi tentu saja saya alami sejak masa sekolah sampai selesai kuliah.

Intinya adalah saya seperti mendapatkan auto komitmen untuk terus mendukung Golkar, termasuk dalam hal dukungan kepada Presiden . Tetapi alas an saya yang paling utama adalah karena saat itu dikubu Prabowo ada seorang Mahfud MD yang sangat saya idolakan.

Hasil Pilpres tahun 2014 menempatkan Jokowi sebagai pemenang..apakah saya kecewa? Awalnya iya , tapi saya bukan termasuk pendukung militant yang terus memusuhi Jokowi sebagai presiden terpilih.

Saya menganggap sama seperti saat Barcelona klub sepakbola yang sangat saya gandrungi kalah dari Real Madrid dalam El Classico , kecewa sebentar sesudah itu biasa saja.

Ayah saya pernah berpesan kepada anak-anaknya , Siapapun yang jadi Pemimpin ( Presiden) taatlah kepada pemimpinmu , sepanjang dia tidak Zalim dan adil.

Waktu berpesan itu beliau selalu menukil salah satu hadist (kalau tidak salah kutip) “Sesiapa taat kepada pemimpin maka dia telah taat kepadaku dan sesiapa yang menderhakai pemimpin maka dia telah durhaka kepadaku”.(HR Bukhari ).

Sebuah Pertimbangan…Golput

Di era Jokowi ini saya juga memiliki rasa simpatik kepada beliau , saya rasanya kok gak rela dihujat , di fitnah , caci maki dan sumpah serapah yang tidak terhitung.

Walaupun juga ada beberapa kekecewaan yang saya rasakan di era Presiden Jokowi seperti Pemilihan menteri di Kabinet nya..sebut saja Wiranto dulu pendukung Jokowi menyerang Prabowo dengan masa lalunya yang kelam yang terlibat dengan pelanggaran HAM. Apa bedanya dengan Wiranto?

Jika mau dikaji Wiranto adalah termasuk sosok yang ada di balik pelanggaran HAM berat saat aktif menjabat di militer. Dari catatan Komnas HAM, Wiranto terlibat penyerangan 27 Juli (penyerbuan kantor PDI).

Tragedi Trisakti, peristiwa Mei 1998, Peristiwa Semanggi I dan II, penculikan dan penghilangan aktivis prodemokrasi tahun 1997/1998, dan peristiwa Biak Berdarah.

Wiranto menurut laporan khusus 92 halaman yang dikeluarkan Serious Crimes Unit bentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa disebut gagal mencegah terjadinya kejahatan HAM di Timor Leste.

Selain itu ada sosok menteri Puan Maharani, saya kok tidak melihat atas dasar apa Jokowi memilih Puan sebagai Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) selain karena dia adalah anak Megawati.

Coba lihat sekarang apa prestasinya ? Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan “Coba tunjukkan ke publik, kira-kira apa prestasi Puan Maharani, saya kira publik enggak lihat, kecuali sosialisasi jamu, yang lain kita enggak lihat apa kerjanya dan ngapain di sana,”

Seiring berjalan waktu rasa kecewa itu sudah mula berkurang sedikit terbias oleh kinerja Jokowi.

Hal yang paling menonjol dalam pemerintahan Jokowi adalah pembangunan infrastruktur di berbagai pelosok negeri, tak hanya di pulau Jawa. Indonesia bagian timur pun menjadi sasaran Jokowi dalam membangun infrastruktur.

Menjelang pengumuman kontestan Pilpres 2019 mulai berhembus kencang kabar bahwa MAHFUD MD adalah sebagai Cawapres , mulailah hati ini perlahan beralih untuk mendukung JOKOWI.

Lha kok…ndilalah yang dipilih sebagai cawapres adalah Mbah Yai Ma’ruf Amin.

Bukannya saya ndak suka sama mbh Yai, saya sangat respek , hormat pada Beliau tapi dalam hal kontestasi PILPRES ini jelaslah bahwa pemilihan Mbah Yai tak lebih sekedar strategi utnuk memenangkan Pilpres saja , political interest..nothing more.

Saya yg semula berharap banyak JOKOWI didampingi MAHFUD MD seketika merasa kecewa..lha kok ngene dadine.

Kekecewaan belum hilang, badalah malah sempat mengangkat Farhat abas sebagai juru bicara TKN (walaupun akhirnya dicoret lagi) lak yow jadi dongkol lagi kan.

Belum juga memalingkan pandangan mak jegagik tiba tiba si Ngabalin dijadikan Jubir istana….sekarang disusul lagi dengan membebaskan Abu Bakar ba’asyir yang akhirnya menjadi Polemik.

Sedangkan untuk mendukung kembali Prabowo rasanya juga sudah berat melihat inner circle nya sudah tidak sejalan dengan pandangan saya.

Di pihak Prabowo terlalu banyak Politikus yang membenturkan politik Identitas/ Politik Sektarianisme/ Politik Primordialisme dengan Nasionalisme.

Menurut saya saat ini pihak Prabowo suka sekali menggugah gairah public dengan isu sentiment berbasis SARA yang menjadi Bahan bakar paling efektif untuk membuat masyarakat terpolarisasi (di kubu Jokowi juga sama tapi tidak segencar di kubu Prabowo).

Akhirnya daripada tolah toleh membuat leher saya kaku dan kecetit , saya putuskan untuk Pemilihan Presiden kali ini saya Golput.

Maaf Kali ini Saya Golput

I Stand in the Outside

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *